sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,
 
Seorang ibu tua termenung di tepi pantai, menangis tanpa suara.
Matanya nanap menatap langit lepas . ombak ombak kecil berkejaran.
Teringat masa ketika ketiga anak-anaknya masih kecil, sering bermain di sana.
Mereka hidup berempat saja, karena suaminya telah berpulang ketika anaknya yang paling kecil baru berusia satu tahun.
Sebagai ibu,telah berusaha berjuang sekuat tenaga untuk menyekolahkan anak-anak,meski memang nafasnya tak cukup panjang membawa mereka ke perguruan tinggi.
Kedua matanya yang cekung merayapi senja yang turun di antara barisan pohon-pohon kelapa.
Rasanya baru kemarin dia bersama anak-anak bermain di sana.
Ibu itu menghapus air matanya yang jatuh .
Ia tak mengerti mengapa kesedihan semakin mengiringinya dari tahun ke tahun.
Mungkin faktor usia atau kesendirian yang diliputi dengan kesepian. Sejak anak-anak mulai bekerja, seolah olah berlomba-lomba mereka meninggalkannya. Mesti dengan alasan yang bisa di mengerti, bekerja.
Waktu terus bergelinding tak terasa tahu-tahu anak-anak telah memasuki kehidupan lain : Menikah dan punya anak.

Harusnya dia mengerti. bukan meratapi diri.
Ibu tua itu masih menagis sesunggukan tanpa suara, pipinya yang keriput basah dialiri air mata.
Perempuan itu menutup jendela.
Berhenti berharap.
Satu dua tetes air mata masih menitik.
--
Holis,01102011.
 


Comments




Leave a Reply


sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,