sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,

Kamboja

01/28/2012

0 Comments

 

Hanyut sudah semua dalam derai air mata
saat purnama kembali temaramkan hatinya yang luruh
Di bawah senyum putih kamboja
Rintik hujan seakan mengiringnya berpulang
langit tertunduk sendu
dan si gagak,
Riang dalam celoteh kebusukan
Sembari menertawakan di antara reranting kering
Mendekap kemeriahan rumah pertapaan
Bahwa seraut kawan telah datang menemaninya meniup malam


Derai air mata semakin menanggalkan cerita
Bibirnya sudah tak mampu melesatkan manis canda
Hanya jeritan dan beku gigi menggetar cinta kasih
Sementara si kecil yang baru saja menetek
Meresapi keheningan menjadi abu-abu
Lentik matanya masih sayu
Entah bagaimana kelak ibu menjawab bila di tanya
"Bu, aku ingin bertemu bapak
aku ingin di peluknya
sehangat engkau memelukku, Bu"


Bukankah lebih berat menjinjing gemuruh gunung yang mengencupkan sayang
dan menelan lautan bara hingga rumput-rumput meringkuk dalam rayu
Dari pada harus menjelaskan kedukaan yang telah terpendam sempurna
pada batu yang terdiam nama


Gelisah kian mengkaca Ibu
Saat fajar kembali membuka awal cerita




oleh Helin Supentoel pada 22 Desember 2011 pukul 1:41 
Ngawi, 22 Desember 2011

( semoga Ibu selalu tegar dalam cintanya)



 

sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,