sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,
 
Harun Mar'i

Beberapa hari lalu setelah Idul Fitri 1432 H saya alhamdulillah bisa menikmati perjalan mendampingi teman sekaligus silaturahim ke beberapa kota termasuk Jakarta, Bandung, Pekalongan, Solo, Surabaya sampai ujung pulau Jawa ( Banyuwangi ). Setelah dari Banyuwangi, langsung meluncur ke Bali dengan menggunakan travel dan naik kapal laut sambil menikmati perjalanan indahnya laut selat Bali pada waktu malam hari. Keika saya sampai di Denpasar Bali, saya melihat jam di HP waktu menunjukkan pukul 3.30. Saya berpikir sama seperti di Jawa bahwa sebentar lagi masuk subuh karena ketika saya di Banyuwangi disana subuh jam 4 kurang. Saya berjalan hendak mencari masjid. Sebelumnya saya tanya pada orang dimana masjid/mushola mereka menjawab tidak tahu/ jauh disana.Sampai akhirnya saya bertanya pada seseorang yang membawa gerobak untuk mengambil sampah dimana masjid / musholla terdekat. Alhamdulillah dia menunjukkan jalan kepada saya letak posisi yang terdekat.

Ketika saya menuju dekat masjid, saya tidak melihat bentuk masjid seperti di Jawa, yang ada hanya disetiap rumah terdapat patung dan tempat sesembahan kecil karena mayoritas di sana beragama Hindu, sampai saya sempat bingung mana masjid. Lalu saya bertanya kepada seseorang dimana letak masjid dia menunjukkan yang ada rumah tingkatnya. Saya berjalan menuju rumah tingkat sampai sempat bingung yang mana masjid karena sekitarnya ada beberapa rumah tingkat, alhamdulillah saya menemukan masjid yang dimaksud karena mendengar suara yang sedang membaca ayat suci al-quran. Saya bertanya kepada seseorang yang berada di masjid “ Sudah sholat subuh? Karena saya melihat jam di HP saya menunjukkan pukul 04.35 berarti waktu subuh masih ada. Orang tadi menjawab : “ Sudah dari tadi. Ketika saya melihat jam masjid waktu menunjukkan pukul 05.45 waktu Bali, disitu saya baru ingat bahwa jam yang saya lihat di HP itu menunjukkan WIB dan perbedaannya di Bali lebih dulu 1 jam, jadi saya sholat subuhnya kesiangan dan tidak berjamaah deh, HEEEE maklum inilah pengalaman pertama kali saya ke menginjak pulau dewata.

Setelah saya sholat, saya berkenalan dengan jamaah masjid yang tadi membaca al-quran yang ternyata orang sunda dan jawa dan sudah lama tingal disana. Salah satu dari mereka bercerita bagaimana merasakan hidup sebagai umat Islam yang minoritas di sana ditengah komunitas umat Hindu. Orang tadi bercerita untuk mendirikan sebuah masjid tidak semudah seperti di pulau Jawa, disana agak dipersulit proses pembuatannya, harus dengan setahap-setahap untuk menjadi sebuah masjid.Bahkan untuk ada mushola harus dengan hati-hati. Dari sini saya berpikir pantaslah kalau saya mencari masjid / mushola tidak semudah seperti di pulau Jawa. Sampai saya sempat merasakan bagaimana menjadi seorang yang minoritas yang susah mencari masjid / mushola sampai harus berjalan agak jauh untuk mendapatkannya sehingga saya sampai terlambat dan tidak bisa sholat subuh berjamaah.

Satu hal yang bisa kita ambil hikmah dari perjalan saya tadi, sungguh sangat bersyukur kita berada di suatu kominitas mayoritas muslim yang dimana-mana sangat mudah menemukan masjid/musholla. Bahkan saking banyaknya terkadang umat Islam terbagi ke beberapa masjid, tidak hanya itu dalam satu RW mungkin lebih dari satu masjid yang jaraknya saling berdekatan. Maka kesempatan yang bagus ketika kita berada di kominitas mayoritas muslim, seharusnya kita lebih giat memakmurkan masjid dengan melaksanakan sholat jamaah di masjid sebagai bentuk kesatuan umat Islam. Kita bisa membayangkan seandainya di tengah komunitas mayoritas muslim yang banyak kita sangat berat untuk melangkah ke masjid/mushola, bagaimana seandainya jika kita berada di lingkungan yang muslimnya minoritas seperti di pulau Dewata tadi. Mungkinkah kita akan bisa memakmurkan masjid????

Demikianlah catatan pengalaman pertama saya menginjakan kaki din pulau Dewata. Mudah-mudahan ada manfaatnya



 

sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,