sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,

DESI

09/23/2011

0 Comments

 
Cerpen , karya  : Sutan Iwan Soekri Munaf

RUANG TUNGGU KEDATANGAN LUAR NEGERI BANDARA SOEKARNO-HATTA                  

Aku melangkah keluar, menuju café.                
Aku taruh rangsel besar di lantai. Aku pun duduk di kursi. Kemudian pesan secangkir teh tanpa gula.                
Seseorang lelaki datang menghampiri.               
"Are you Desi?" tanya lelaki itu.
"Ya. Engkau Iwan?" balik aku bertanya.
Dia mengangguk.
Aku ulurkan tangan. Kami berjabattangan. Ah, jabat tangannya khas Melayu.
"Silahkan," aku berusaha ramah menawarkan duduk.
Iwan duduk.
"Teh atau kopi?" tanyaku lagi.
"Kopi," jawabnya.
Aku memesankan.
"What do you think about me?" tanyaku sambil mengambil sebatang rokok putih dan kemudian kusulut.
"Hmm… Cantik."
Aku tersipu mendengar pujiannya.
"Perempuan setuaku begini?" kembali tanyaku dalam ketersipuan.
"Ya. Aku seakan bertemu perempuan 27 tahun," kata Iwan.
Sipu itu makin menjadi. Rambut blondaku yang pendek, tiba-tiba saja terkibaskan oleh tangan kananku.
Pelayan menaruh pesanan kami.
Aku mempersilahkan.
Kami mengangkat cangkir.
Aku menghirup teh. Aku suka sekali pada aroma teh negeri ini.
Iwan menghirup kopinya. Kemudian mengambil sebatang rokok kretek dari sakunya, dan menyulutnya. Ya, lelaki ini khas Melayu sekali, kata hatiku.
"Kamu juga tidak terlalu hitam kelam seperti ceritamu di email yang lalu," kataku.
Iwan tersenyum. Senyum khas Iwan, ini yang membedakannya dengan senyum lelaki khas Melayu yang selama ini aku kenal.

DI DALAM TAXI

Kami duduk di belakang. Mobil melaju ke Bogor.
"Tidak terlihat genting…" gumamku.
"Ya, aku sudah katakan, kendati tiap hari terjadi demonstrasi, namun Indonesia aman, kan?" jawabnya.
"Tadi pagi, aku lihat di CNN, ada tank-tank berkonvoi," kataku.
"Ya, konvoi tank hanya sekitar Istana Merdeka. Lihat, di sini tak ada apa-apa, kan?"
Ya, mobil telah melintas jalan tol antara Tanjung Priok menuju Cawang.
Dari ketinggian sini, kami dapat melihat sedikit wajah Jakarta pada gelap malam. Cahaya kemerlip. Sepi. Tak ada tanda-tanda keadaan militerisasi atau akan adanya kekacauan di negeri ini.
"Bagaimana pendapatmu tentang Gus Dur?" aku ingin tahu pendapatnya.
"Mungkin dia jatuh dalam Sidang Istimewa MPR yang bakal digelar dalam waktu dekat ini."
"Oh, ya?!"
"Ya, tadi malam anggota MPR sudah menyetujui Sidang Istimewa MPR."
"Apakah akan terjadi keadaan darurat?"
"Mungkin."
"Ah, liburanku jadinya tak akan menyenangkan…," keluhku.
"Liburanmu tetap akan menyenangkan. Keadaan darurat paling-paling di sekitar Gedung MPR dan sekitar Istana Merdeka. Indonesia tidak selebar daun kelor, darling!" kata Iwan.
Aku tersenyum mendengar Iwan menyatakan kata darling, khas Melayu yang kujumpai di Bali bila merayu perempuan berkulit putih sepertiku.
"Oh, ya?" tanyaku masih belum mengurangi senyumku.
 Tanya itu entah mempertanyakan informasinya tentang situasi darurat, atau mempertanyakan kata darling-nya tadi.
"O-la-la… Desi. Sudah kukatakan, negaraku itu luas sekali. Jika dibentangkan, Dari Inggris hingga ke Rusia. Jika ada demonstrasi di Jakarta, belum tentu di Bogor akan ikut-ikutan demo," jawabnya meyakinkanku.
Namun suara itu terdengar datar. Barangkali karena itu, aku tak memperdulikan usianya yang beberapa tahun lebih muda daripadaku.
Pasalnya, cara pandangnya cukup menyamankan diriku.

DI HOTEL

Iwan membantuku memasukkan barang-barangku ke kamar. Kemudian kami duduk di beranda.
"Aku tidak bisa membayangkan kita bisa bertemu," kataku mengakui.
"Ya, aku juga. Apalagi Belanda jauh…."
Aku tertawa mendengarnya, apalagi dia berujar bukan Dutch atau Holland, tapi Belanda dalam komunikasinya berbahasa Inggris denganku. Ya, aku sudah mengetahui beberapa patah kata bahasa Indonesia. Orang Belanda, ya seperti aku ini.
"Tuhan mempertemukan kita," kata Iwan menambahkan.
Aku mengernyitkan dahi.
"Aku heran. Kamu tetap mempercayai sesuatu yang di luar rasional. Bukankah kita bertemu karena aku ke sini dan kau mau menjemputku di Bandara?" tanyaku.
"Aku tahu. Sebagaimana kau katakan, kau atheis. Aku hormati pandanganmu. Tapi aku harapkan engkau hormati pandanganku. Dalam pandanganku, kita bertemu karena Allah mau mempertemukan kita."
Aku ingin saja mendebatnya. Tapi nada bicaranya yang datar dipenuhi kepastian keyakinannya, malah menumbuhkan kekagumanku pada lelaki ini. Betul, tak ada dalam nada bicaranya ingin mengajakku untuk meninggalkan keatheisanku. Ya, harus kuakui, ada sesuatu yang menggetarkanku saat dia berkata tadi.
Ah, tidak. Aku tidak boleh tergetar oleh perkataannya. Ini akan merendahkan diriku. Ini akan menjadikan aku sebagai perempuan yang tak mampu mengatasi persoalan dengan pemikiranku sendiri. Apalagi, banyak sekali aku mendapat informasi, perempuan selalu dinomorduakan dalam Islam.
"Aku kurang begitu suka dengan Muslim," kataku sekenanya.
"Aku Muslim," jawab Iwan datar sambil menatap jauh ke seberang taman di muka kamarku.
"Ya, aku tahu. Semula aku bayangkan, kamu ini mirip fundamentalis di Iran, Afganistan atau…," kataku sambil melunjurkan kakiku.

Iwan menghirup rokok kreteknya. Agaknya, ingin merasakan nikotin dan tar membakar paru-parunya.
"Mereka saling berperang… Saling bunuh…," kataku melanjutkan.
"They are stupid Muslim, Desi," jawab Iwan datar.
"Aha?" tanyaku heran.
"Aku fundamentalis. Ibarat membangun gedung tinggi, tanpa pondasi yang kuat, tanpa fundamen, gedung itu tak akan berdiri kokoh. Apalagi dalam agama, fundamennya harus kokoh. Orang yang mempunyai kekokohan fundamen itulah yang dimaksudkan dengan fundamentalis."
"Lantas, yang stupid Muslim?" tanyaku.
"Ya, mengakunya Muslim. Namun dia hanya mendengar apa yang dikatakan pemimpinnya. Bahkan mereka bisa saja mempertuhankan sang pemimpin. Akibatnya, segala ucapan pemimpin adalah kebenaran tunggal, layaknya ucapan Tuhan. Tanpa pernah di-check ulang," kata Iwan.
"Jadi?" tanyaku masih tak mengerti.
"Ya. Mereka tidak membaca Al Qur'an. Jika pun mereka membaca Kitab Suci ini, mereka cuma melafalkan teks, tanpa memahami pesan-pesan dalamnya. Padahal pesan-pesan Allah itu terdapat dalam Al Qur'an. Dan Allah menjamin akan keselamatan Al Qur'an sampai akhir zaman," tutur Iwan dengan nada datar.
"Apakah Muslim tak perlu pimpinan, menurutmu?" tanyaku lagi semakin ingin tahu.
"Bukan begitu. Muslim perlu pemimpin. Tapi pemimpin itu adalah manusia juga. Manusia itu ya tak lepas dari alpa dan buta. Alat ukur untuk men-check kepemimpinannya masih melangkah di jalan yang lurus dengan alat ukurnya adalah Al Qur'an," kata Iwan.
Aku menarik nafas dalam-dalam, mendengarkannya.
"Ya, jika pemimpin minta petunjuk ke kuburan, hal ini sudah tidak sejalan lagi dengan alat ukur. Bukankah kuburan itu hanya bongkahan tanah dan batu. Itulah yang kumaksudkan stupid Muslim, yang mempercayai tanpa check ulang pada alat ukur sebenarnya. But I'm not a stupid Muslim. I'm a Muslim, Desi."
Aku semakin menarik nafas panjang, kemudian menahannya di paru-paru sejenak, setelah itu baru kuhembuskan perlahan-lahan lewat mulut.
Ada sesuatu getaran yang masuk ke dalam batinku.

DI KEBON RAYA

Kami melangkah di antara rimbunan pohon-pohon tinggi. Udara sejuk beraroma daun-daun basah. Banyak sekali pasangan-pasangan muda-mudi yang sekadar duduk atau melangkah di salah satu sudut Kebon Raya ini.
Beberapa kali aku hampir tergelincir, namun Iwan dengan cepat menyambar tanganku. Namun, setelah kondisi stabil, dia melepaskan tanganku.
Ah, saat tangannya yang legam itu menyentuh jemariku yang putih ini, terpancar kehangatan yang lain. Aku merasakan ini. Namun, saat aku menatap ke dalam mata Iwan, dia segera melepaskan tangannya yang menggamit tanganku. Kemudian dia alihkan pandangan ke mana saja, asal tak bertatapan denganku.
Kemudian kami istirahat di sebuah akar besar.
Keringat kami segera hilang bersama hembusan angin. Kesejukan udara mengambangkan imajinasiku di sisi Iwan. Sebetulnya aku ingin saja bersandar ke bidang dada Iwan, namun aku tak melakukan. Aku tak ingin dianggap perempuan murah. Hanya, Iwan pun tak mencobanya. Bahkan, dia hanya menyentuh tanganku, saat-saat aku tergelincir tadi. Aku mencoba mengibaskan rambutku dengan tangan kiri. Tidak juga merangsang Iwan untuk berbuat sesuatu.
Entahlah. Aku ingin saja dibelainya. Aku ingin saja merasakan kedamaian di pelukkan lelaki ini. Aku ingin saja melupakan tugasku sehari-hari menghadapi pesan demi pesanan transaksi di bursa efek negeriku. Aku benar-benar ingin merasakan liburan yang memberi arti.
Betul. Aku hormati Iwan, karena menatapku bukan sebagaimana lelaki yang menatapku penuh halusinasi sexual. Dan kemudian menjadikanku sebagai obyek semata di ranjang. Dan kehangatan yang terjadi pun hanya sesaat dan kemudian terlupakan.
Tidak, bersama Iwan, terasa ada sesuatu yang getaran lain. Paling tidak kurasakan di hati ini.

DI KAMARKU, AMSTERDAM

Keletihanku sebagai pialang, aku abaikan. Aku ingin sekali dapat kabar dari Iwan.
Maka, selepas aku mandi, dengan menggunakan piyama, aku segera menyalakan notebookku. Aku langsung on line dan membuka mailbox-ku.
Tampak ada email dari Iwan.
Desi Manis,
Maafkan aku, jika selama liburanmu di Indonesia tak dapat menyenangkanmu.
Aku sebagai lelaki normal dapat menangkap signal-signal keperempuananmu. Namun, maaf Desi, jika aku dan kamu tidak menikah, aku tidak ingin melakukan apa pun. Termasuk di Kebon raya, termasuk di kamar hotelmu di Bogor, termasuk… Ya, itu perbuatan dosa.
Namun kelaki-lakianku pun tak terbendung. Aku tak ingin dosa. Aku ingin melamarmu untuk menikah.
What do you think, darling?
Sweet Kisses
Iwan.
Aku tertegun.

Ya. Aku pun demikian, Iwan. Tapi… Ah, aku tak sampai berpikir, dalam masa seperti ini, masih ada orang yang memegang keyakinan sepertimu…
Tapi, perlukah kita menikah, hanya karena memenuhi kelaki-lakianmu dan keperempuananku? Perlukah ada rumahtangga, kalau engkau di Jakarta dan aku di Amsterdam sini? Bukankah sebaiknya saat bertemu, kita lepaskan segala kerinduan dan kemudian kita lupakan lagi setelah kita masuk ke wilayah pekerjaan kita masing-masing?
Tidak.
Iwan memang khas Melayu. Aku harus hormati pandangannya. Dan… getaran hatiku ini, betulkah? Aku belum bisa memastikan, apakah benar aku perlu kawan pendamping hidup di saat aku hampir 50 tahun?

Selama ini, hampir seluruh hidupku mandiri. Aku tak pernah ketemu orangtuaku, selepas aku kawin dulu dan kemudian berpisah. Begitu juga puteriku satu-satunya selepas dia menikah, tak pernah dia berkunjung padaku. Aku pun cuma sekali-sekali ke rumahnya.
Terasa sosialisasi asing mungkin bagi Iwan. Semula bagiku itu hal yang wajar. Kini, setelah aku ketemu Iwan, terasa kehidupanku ini asing. Ganjil.
Aku ingat saat dia katakan di Bogor dulu: "Kami hormati orangtua. Aku tak terbersit pikiran akan memasukkan orangtuaku ke rumah jompo. Orangtuaku akan tinggal di rumahku. Kami akan merawatnya."
Ya, ibuku saja kumasukkan ke rumah jompo. Dia pernah mengeluh, bahwa suasana di sana tak mengenakkan. Tapi aku tak pernah dengarkan keluhannya.
Bagaimana pula denganku. Usiaku sudah senja.
Ah… Getir menatap masa depanku.
Dan kini Iwan mengajakku menikah.

Menikah? Apakah pernikahan ini akan sama dengan kejadian saat aku dan Johan membangun rumahtangga, sehingga melahirkan puteri kami? Kemudian kami harus bercerai, karena Johan lebih banyak di pelukkan-pelukkan gadis-gadis lain.
Apakah tidak sebaiknya hidup bersama tanpa tuntutan apa-apa, dan menikmati hidup untuk pemenuhan kebutuhan keperempuananku, sudah itu, bebas lagi sebagai sedia kala?
Ah… semua bergelayut dalam benakku.
Aku pencet tombol mouse pada lambang reply pada email Iwan.
Aku menulis pesan padanya:
Iwan
Menikah?
Rumah jompo?
Melayu?
Belanda?
Atheis?
Muslim?
Bagaimana, Iwan?
Aku tak bisa meneruskannya…….




Ragunan, Agustus-September 2001

 

    Sutan Iwan Soekri Munaf 

    Archives

    September 2011

    Categories

    All
    Desi


sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,