sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,
 
Semua tangan mencabikcabik
Tak puas mencakarcakar memperebutkan kebenaran
Menghujat satu sama lain
Tikam menikam berkedok agama
Aku pergi dari jalanjalan mereka
Aku sembunyi dibalik kelambu paling sepi
berharap dapat menatap mendengar suaramu

Ketika sabda-sabdamu
Dijadikan kendaraan untuk mencapai keinginan
Dan al-qur'an diperdebatkan dengan keangkuhan
Aku menyepi disepi paling sunyi
Berharap kau berbisik padaku

Ketika abu jahal dan abu lahab
Menitis lahir kembali di tengah umatmu ini
Dan wanitawanita kami menyerupa istriistri mereka
Anakanak kami bergairah mengumbar dosa
Aku menyelami ditelaga paling jeram
Berharap engkau datang meski dalam mimpi
Ketika ulamaulama masakami
Berkoar dibalik meja
Disuap sedermaga harta
Dibalik ayatayat suci
Yang dijadikan jembatan kendaraan diri
Aku bersemedi dalam lubuk matahari
Berharap engkau datang membawaku pergi

Ketika matamata penuh pasrah
Dan tangantangan kurus tak lagi tengadah
Entah bagaimana dia mencapai surga
Berharappun dia tak bisa
Apalagi bermimpi indah tentang kehidupan raja
Aku pergi bersembunyi digelap malam
Berharap dapat mendengar suaramu

Ketika kulihat anakanak kami bangga dengan pengakuan yang ada
Dan merasa paling pintar dalam menjabarkan kebenaran
Sehingga tidak butuh pedoman untuk diarahkan

Aku bersembunyi dibalik batu paling beku
Berharap merindu denganmu setiap waktu
Oh,Muhammadku
-------------------------------------------------------
Jakarta,15-9-2011 :pustaka pribadi dalam buku yang tak pernah lahir
 
 
Aku awan
Kearah matahari melangkah
Angin membawaku tak tentu
Kadang ketepi gemintang
Keladang rembulan

Berarak bersama burung-burung
Sesekali singgah di musim penghujan
Tumbuh di tanah gersang
Pepohonan dan semi-semi
Di halaman hatimu berbuah rindu sabar

Tanah tandus desaku memaksaku menjadi kuncup
Di lautan dan batu karang
Tempat berteduh burung-burung di tangkai siwalan
Di tepian gemintang pada musim kemarau penghabisan
Aku air dalam dahagamu
Hingga musim penghujan
Beriak-riak menyusul ombak lautan
Berlayar kearah matahari dan bulan
Mengepak doa sepanjang pendakian
Pada takat-takat dangkal kulabuhkan jangkar
Pastikan layar tak sobek sepanjang pengembaraan

Aku temukan diriku terhimpit relung-relung lautan
Gelap sunyi paling sepi dalam lubuk matahari
Bingkai-bingkai sejarah tertata air mata
Jejak para pengembara nampak mulai sirna

Aku berjalan kearah matahari
Kala terbit dan tenggelam
Mengitari pengembaraan angin malam
Di pucuk dedaunan embun kehidupan

Aku berlayar mengikuti angin musim penghabisan
Burung-burung dan riak ombak berkejaran
Menyeretku kembali pulang
Ketepi lautan tempatku menanam sabar



oleh Kerikil Tajam 
Jakarta,16-08-2011

 

sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,