sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,
 
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sabtu, 13 Agustus 2011

Selepas shalat Isya, dan dilanjutlkan terawih. Iwan mengikuti ritual ini. Saat ustad Bahrum menyampaikan khotbahnya tentang manusia yang selalu berbuat dosa akan menjadi arang bagi api neraka, roma Iwan pun tegak seketika. Ada kemirisan di wajahnya.Terbayang oleh Iwan, betapa sebagian besar perjalanan hidupnya dilamun dosa. Baik dosa yang bermula dari gagasannya maupun dosa yang terpaksa diikutinya, karena ketiadaan sikap Iwan untuk menentang perbuatan itu.Dulu, sebelum Iwan menjadi petinggi lembaga pemerintahan itu, pernah seorang petugas polisi patroli mengancam Iwan akan menilang karena lampu rem kirinya mati. Namun Iwan akan memilih mengeluarkan selembar limapuluh ribuan daripada mengurus ke pengadilan. Dan oknum polisi itu pun mau!Ada juga kejadian di mana Iwan ingin menjalani dengan baik, sesuai aturan. Namun kontraktor yang ikut tender di lembaganya itu - melobbinya dengan menawarkan makan malam di hotel bintang 5. Saat makan malam itu, sang kontraktor membawa Dewi yang berkulit kuning langsat dan pakaiannya seronok. Begitu manja bahasanya. Dan akhirnya sang kontraktor itu mengisyaratkan bahwa dia telah memesan kamar untuk Iwan. Dan terperangkaplah Iwan dalam pelukkan Dewi di kamar itu!Banyak lagi adegan-demi adegan berjalan di benak dan pikiran Iwan. Betapa dia akan menjadi arang bagi api neraka!Begitu selesai 20 rakaat terawih dan diakhiri oleh 3 rakaat witir. Iwan duduk bersimpuh di sudut ruangan mesjid. Mulutnya komat-kamit. Dia membaca al fatihah dan sejumlah surat yang dia hafal. Hatinya menciut seketika. Hatinya meminta ampun kepada Sang Khalik. Tak terasa, airmata pun bergelindingan dari selaput matanya."Ya, Allah! Aku bukanlah apa-apa. Akulah mahlukMu yang selalu melakukan dosa yang dilarangMu!" kata Iwan lirih membatin.Lewat pukul 23, di ruangan mesjid itu sudah kosong. Bahkan penjaga mesjid pun telah mematikan lampu dan mengunci pintu mesjid. Iwan dibiarkan penjaga mesjid itu. Dia tak mau mengganggu kekhusyukkan Iwan yang dikenalnya sebagai warga di tempat itu yang menjadi pejabat lembaga pemerintahan.Semakin waktu berjalan, semakin berdentam hati Iwan. Semakin meluap airmatanya sejalan dengan doanya minta ampun. Dari mulutnya terucap "LA ILA HA ILLALLAH" dan dari batinnya berteriak "Ya, Allah ampunkan diriku!". Ucapan mulutnya dan ucapan batinnya terus menerus dilantunkannya.

Terdengar suara dzikir dalam nada suara kepasrahan.

Sampai suatu ketika tak terdengar suara dzikir itu lagi. Malah berganti dengan dengkur.* * *

"Ya. Ini pasti mimpi!" kata hati Iwan.

Dia berpakaian kain putih tanpa berjahit, seperti ihram yang dipakai saat orang berhaji. Wajahnya menatap ke sebuah padang yang maha luas. Di padang maha luas itu, terdengar teriakan orang memelas, ada lolongan penuh rasa takut ataupun jeritan berkepanjangan. Iwan seperti menonton bioskop saja.Dia melihat lidah seseorang yang digunting berkali-kali. Lidah itu putus, namun tumbuh lagi dan digunting lagi. Sang pemilik lidah menjerit-jerit. Dari balik sang pemilik lidah perlahan-lahan tampak penampilan sang pemilik lidah yang berjas dan berkopiah, gagah. Dia tengah berepidato di depan orang banyak."Pilihlah aku! Aku akan berantas korupsi! Aku akan hapuskan kemiskinan!" teriak sang pemilik lidah dengan suara menggelegar.Diikuti tepukan hiruk pikuk yang diikuti yel-yel. Kemudian gambar si pemilik lidah itu berubah menjadi petinggi negara. Dan di balik bayang-bayang sang pemilik lidah yang petinggi negara ini, terlihat rakyatnya makin miskin. Banyak pejabatnya korupsi di sana-sini, dan sang pemilik lidah tidak menindak apa-apa, karena sang koruptor orang-orang dekatnya.

Semakin miris hati Iwan.

"Ya, Allah! Ampunilah diriku. Ya, Allah, jagalah diriku agar janjiku tetap dapat kutepati!" kata Iwan tergetar.

Selepas tayangan si pemilik lidah, kamera pun seakan berpindah arah menuju orang yang melolong panjang. Seorang yang tegap dan gagah namun dari depan dan belakangnya dihimpit tanah, hingga tubuhnya muncrat seperti cairan, karena tekanan himpitan begitu kuat. Walau pun tubuh itu sudah penyek dan muncrat, kembali lagi utuh. Diikuti pula dengan tanah yang menghimpit bagian depan dan belakang tubuhnya. Di antara bayang-bayang orang yang terhimpit itu, terlihat orang berjas gagah turun dari mobil Jaguarnya. Beberapa orang anak buahnya mendekatinya.

"Jadi berapa HA?" tanyanya. "2300 HA, bos."

Dia mengangguk. Lantas dia maju ke podium di antara sejumlah masyarakat di sana."Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Lahan Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu hanya 2000 HA. Di atas lahan ini akan kami dirikan perumahan bla-bla-bla."

Dan benar-benar ganti rugi yang diberikannya kepada pemilik lahan, artinya setelah diganti uang, maka sang pemilik lahan menanggung rugi.

Hati Iwan semakin miris.

Ganti berganti tayangan itu berjalan.

* * *

"Sahur! Sahur! Sahur!"

Suara ajakan sahur yang dilantun anak muda di perumahannya itu, membangunkan Iwan dari tidurnya.

"ASTAGHFIRULLAH."

"Bapak tertidur pulas. Aku tak berani membangunkan," kata penjaga mesjid.

"Ya. Tak apa-apa. Aku harus pulang ke rumah. Sahur."

Ya. Iwan meyakini yang terjadi tadi adalah mimpi. Namun mimpi itu telah mengajuk hati dan batinnya. Tubuhnya pun bergetar seakan demam saat makan sahur.

"Mengapa, Bang?"

Iwan tak menjawab.

Hanya tangannya bergetaran. Badannya berguncang. Keringat mengucur dari sekujur tubuhnya.

"Badanmu panas, Bang. Kondisi tubuhmu tak sanggup lagi itikaf di mesjid, Bang!"

Dalam gemetaran itu, tubuh Iwan pun lemas.

Namun sahur berhasil diselesaikannya.* * *Sudah lebih dari seminggu, tiap malam semakin rajin Iwan Itikaf. Semakin menggigil tubuhnya. Semakin menunduk ia pada Sang Khalik. Malah pada siang hari, nyaris seminggu itu anak buahnya merasa kaget. Lembaga pemerintahan di bawah pimpinan Iwan seperti melakukan pembersihan.Tanpa segan-segan Iwan menegur anak buahnya yang korupsi. Malah ada anak buahnya yang memperlambat surat yang diminta masyarakat, karena sang peminta surat tak memberikan uang, langsung diberi peringatan keras oleh Iwan.

"Kita ini abdi masyarakat. Masyarakat itu adalah bos kita. Jadi, layani dengan baik bos kita. Jangan kalian permainkan. Apalagi kalian minta uang!" kata Iwan.

"Bukankah semboyan kita, kalau bisa dikerjakan besok, mengapa dikerjakan sekarang, Pak?""Salah. Sekarang semboyannya, jika dapat dikerjakan sekarang, mengapa ditunda besok!" kata Iwan tegas. Semua anak buah Iwan terpana.* * *Aula di lembaga yang dipimpin Iwan dipenuhi pegawai dan sejumlah wartawan. Mereka duduk bersila di atas karpet hijau. Sementara di dua sudut ruangan itu, terdapat meja panjang. Di atas meja itu tersaji berbagai makanan ringan dan makanan berat.

"Sebelum kita mendengar khotbah ustad kita, maka kita berharap agar Pak Iwan sebagai pimpinan tertinggi lembaga kita dapat memberikan wejangan pada acara buka puasa bersama ini," ujar pembawa acara.

Iwan pun menerima mike.

Dia menatap ke hadirin. Hadirin diam. Wajah mereka tertuju padanya. Termasuk ada beberapa wartawan telah mengarahkan kameranya.

"Ramadan tahun ini. Ramadan kali ini," ujar Iwan memulai wejangannya.

Hadirin mendengarkan dengan seksama."Ya, Ramadan kali ini istimewa bagiku. Pada terawih hari kedua, aku mendengarkan khotbah seorang ustadz," dan berceritalah Iwan tentang perjalanan mimpinya itu.Ada pengunjung yang giris dan merasakan kesakitan, ketika Iwan menceritakan orang yang digunting lidahnya. Juga tentang orang yang dihimpit oleh tanah.

"Apa hasil dari mimpi itu yang Bapak rasakan?" tanya seorang wartawan seraya menyorotkan kameranya, selepas adzan magrib terdengar dan Iwan membatalkan puasanya.

"Ya. Aku berubah. Aku menyadari, aku bukan apa-apa. Aku hanya hamba yang harus melayani Sang Khalik."

"Jadi betulkah desas-desus itu, selama seminggu ini terjadi perubahan drastis di kantor Bapak?" Tanya wartawan lainnya.

"Perobahan ke arah yang benar dan lurus itu senantiasa akan aku lakukan. INSYA ALLAH."

"Apa yang Bapak inginkan lagi?" Tanya wartawan lainnya.

Iwan menatap ke arah wartawan itu."Aku ingin lagi mendapatkan mimpi itu lagi, walau aku amat takut menyaksikan mimpi itu. Namun mimpi itu tak pernah datang lagi sampai hari ini," kata Iwan. ***

Bekasi Juli-Agustus 2011

 

sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,