sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,
 
oleh Alif Raung Firdaus 

Menyimak "Berita Kepada Kawan"
pagi ini semuanya menyendu
tak ada Heavy metal atau pop kacangan
yang setia mengundang kantuk berdatangan
tapi, lagu sendu
protet muram tanah air
memenuhi pengap kamar
beradu dendang dengan asap rokok
dan aroma Torabika yang nanar
menambah sendu, sendunya pagi mendung
tanpa matahari yang muncul menyinar

kuputar berulang ulang
sembari memutar deras imajinasi
yang liar memacu kegalauan
sedikit banyak ada gambaran
memusing di otakku yang batu
bencana bencana yang menyilihi waktu
tangis bocah yang mesti piatu
membuncah dalam dada
tidakkah kau merasakannya pula, dinda?

Ebiet benar, mungkin saja ia keliru
tapi begitu arifnya ia memberi pilihan
alam yang mulai murka,
atau Tuhan kita yang sudah Bosan?

O, Menyimak Berita Perjalanan
meski aku tak turut di dalamnya
ada luka yang darahnya ikut bertampisan
memerahi jiwaku,
sebagai lelaki yang dibesarkan
oleh ribuan problema kekuasaan
simpang-siur lagu keadilan
lanying tangis kelaparan
tak ada gambaran sudah
semerta lenyap, entahlah
tak cukupkah berita ini mengingatkan
alam yang mulai murka, atau Tuhan kita sudah Bosan?

Atau. . .

Jember Suatu Pagi, 20 Nopember 2011
*Berita Kepada Kawan, salah satu judul lagu Ebiet G. Ade

 
 
oleh Alif Raung Firdaus 

Guyur, guyurkanlah!
Jangan henti tangiskan langitmu
Yang gerah
Biar tersiramkan kotamu yang gelisah
Yang lama memendam amarah

langit memetir
kilat menyela hujan
deras menyapu kemarau
menumpahi risau jalanan
tempat dimana dedaunan,
embun, dan keteduhan
mesti menyingkir ke pedalaman

Guyur, guyurkanlah!
Maka rintik yang paling hujan
Mengeja bumi senjamu
Dengan nyanyian
Bising dan kegaduhan

Jember, Nopember 2011

 

sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,