sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,
 
by Lara Luca 

Dikeheningan malam.....

Ia menghabiskan hari-harinya di rumah rumah pelacuran
Sejak senja hasrat telah terbakar oleh waktu yang terus berputar
Bergincu tebal bertopeng perih
Berdiri termangu di bawah lampu lampu pinggirin jalan
Menjual tubuhnya demi sesuap nasi yang dihiasi oleh airmata dan darah
Menyerukan gairah
Menawarkan birahi
Menjual harga diri
Pada raga-raga yang penat oleh debu-debu kota
Dikesunyian malam....
Saat jiwa-jiwa kotor gentayangan
Ia meneguk anggur yang mabuk bencana dan kepedihan
Membisikan sari surga diawali oleh rayuan- rayuan histeris
Matanya yang sarat nestapa memandang ke arah mata- mata jalang seolah minta persetujuan
Mengganguk dengan anggunnya
Menggelayut dengan manjanya
Kecemerlangan matanya membangkitkan gejolak jiwa
Kemanisan mulutnya membangunkan hasrat-hasrat yang sedang tertidur
Dikegelapan malam.....
Ketika jiwa berlomba menggapai mimpi
Ia seperti seorang yang telah menemukan cinta
Tidak menyadari pada saat itu hanya kebebasan birahi yang bergerak
Seperti angan yang mengambang di atas penciptaan dunia
Citarasa yang hanya melahirkan penyesalan yang dalam
Merebahkan asa karena kelelahan melewati jalan keinginan
Hatinya berselimut hantu hantu ketakutan dan keputusasaan
Disaat malam....
Masihkah ada cinta?
Masihkan rasa itu miliknya?
Akankah cinta mengangkatnya dari dunia kehinaan
Dan ketika Ia meminta sayap-sayapmu merangkulnya
Akan terlukakah Ia dengan kuku pencengkraman yang ada di balik sayapmu?
Ketika malam....
Birahi terkuras tuntas
Ia lelah berkepanjangan
Dengkuran nafas pramuria yang tertidur terdengar terengah-engah
Dahinya berkerut dalam pengharapan

"Cinta.... Alangkah kejamnya kehidupan ini" suara lirih igauannya seiring datangnya pagi

 


Comments




Leave a Reply


sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,