sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,
 
Mas, pohon mangga yang dulu kau tanam
sudah berbuah dimusim ini
penghujan, kemarau, penghujan, dan kemarau lagi
ia bertahan dari jemput kematian
 
tidakkah kau ingin memetik
bersama kita nikmati berdua
jenis harum manis, demikian engkau berkata
untuk berjaga, jika aku nyidam nantinya
 
Mas, kupetik sendiri ia akhirnya
untuk si kecil yang kini melata
terbata mulutnya mulai berkata
tertawa-tawa saat kukidungkan tembang pengantar tidurnya
 
adakah kau akan datang untuk menimang
sambil susuri pematang kala senja menjelang
lupakan sejenak sawah dan ladang
perlahan pasti "seblabak demi seblabak" kian menghilang
 
Mas, lenguh sapi kini tak ada lagi
baik siang, sore atau malam hari
derum traktor pengganti kini
hehijauan mati, tak berpupuk lagi
 
Mas, tak ingatkah kau sebentar pulang
seperti kau janjikan banyak membawa uang
walau sunguh dari awal kubilang
tak perlu semua itu, cukup kau datang
 
sepi kini kujalani
hela nafas rindu tajam mengiris kalbu
penantian akan dirimu ada ditiap hari
benak hanya berisi bayangmu
 
Mas, aku kangen dirimu
sampai kapan kusanggup tanpa rengkuhmu
 
fa,21102011
 


Comments




Leave a Reply


sajak, sastra, puisi, poetry, poem, writing, menulis, cerpen, novel, diksi,